Tak hanya dari karakteristik masyarakatnya, produksi hasil pangan di Riau juga mempunyai andil penting dalam seni dapur kuliner Riau. Tentu saja masakan berbahan ikan hasil tangkapan mendominasi lauk-pauk yang berasal dari Kepulauan Riau, sedangkan di Riau daratan mayoritas hidangannya berbahan santan dan daging merah, seperti sapi dan kerbau. Perkebunan kelapa yang merupakan salah satu potensi besar di Riau menjadikan makanan berbasis santan sangat populer. Sebut saja nasi Malaka, lontong sayur daging Riau, gulai kepala ikan, dan tak ketinggalan gulai pakis yang menjadi primadona di kalangan vegetarian.
Tak ketinggalan, banyak hidangan tradisional yang memiliki peran penting dalam berbagai upacara dan tradisi masyarakat setempat, seperti tradisi makan nasi hadap-hadapan pada upacara pernikahan. Semua kekayaan budaya yang tak ternilai harganya ini ditutup cantik dengan aneka resep hidangan tradisional yang cita rasanya sudah tidak diragukan lagi.
Murdijati-Gardjito sejak tahun 2000 telah menggeluti permasalahan tentang makanan tradisional selama ditugaskan pada Pusat Kajian Makanan Tradisional (PKMT), Pusat Studi Pangan dan Gizi, Universitas Gadjah Mada. Dalam perjalanan mengkaji makanan tradisional, penulis telah menjumpai kajian yang menarik tentang makanan Indonesia, kuliner nusantara, dan gastronomi Indonesia. Dalam kurun waktu tersebut hingga sekarang telah ditulis puluhan buku tentang makanan Indonesia dan kuliner nusantara. Penulis mengaku merasa harus bekerja keras untuk dapat menyelesaikan dokumen terkait makanan Indonesia yang dirasa sangat diperlukan bagi generasi muda. Pekerjaan yang tidak mudah ini telah mengantarkan penulis memperoleh beberapa penghargaan. Pada 2012, penulis mendapat penghargaan dari Gubernur DIY sebagai pelestari budaya. Kemudian pada 2013, pemerintah Republik Indonesia memberi penghargaan sebagai peneliti, pelestari, dan pengembang kuliner Indonesia. Selanjutnya pada 2019, pada Ubud Food Festival, ia mendapatkan Lifetime Achievement Award dalam upayanya menduniakan kuliner Indonesia. Pada 2019 juga, penulis memperoleh penghargaan dari Indonesian Gastronomy Association sebagai perintis, pelopor, dan peneliti gastronomi Indonesia. Pada tahun yang sama pula, Universitas Gadjah Mada menganugerahkan penghargaan dalam hal menerapkan ilmu dan seni melalui kearifan lokal di bidang pangan. Hingga kini, penulis masih aktif meneruskan kajiannya mengenai gastronomi Indonesia.
Fajar Ayuningsih, seorang pemerhati kuliner dan gastronomi yang memiliki kecintaan besar terhadap seni masak-memasak. Mencicipi berbagai jenis masakan, menjelajah pasar tradisional, jajanan kaki lima, hingga resto terkini adalah kesukaannya. Ditambah lagi pengalamannya selama belasan tahun sebagai jurnalis, food writer, dan penulis lepas di berbagai majalah terkenal di ibu kota, memberinya kesempatan mengasah kemampuan menulis dan mengenal beragam seni kuliner tradisional Indonesia serta mancanegara. Saat ini, ia aktif menulis buku masakan, resep diet populer, dan kepariwisataan. Kesehariannya diisi dengan kegiatan sebagai foodstylist komersial, dosen, dan konsultan di bidang pengembangan wisata kuliner tradisional Indonesia.
Aulia Safrina Ardani, S.T.P., M.Sc., lahir di Bukittinggi, 14 April 1997, merupakan lulusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Saat ini, penulis yang akrab disapa Afin ini tengah menempuh pendidikan Magister Ilmu dan Teknologi Pangan di almamater yang sama. Keingintahuannya yang besar akan kuliner mengantarkannya untuk bergabung dengan tim penulis Prof. Murdijati-Gardjito. Selain Kuliner Riau, penulis juga berpartisipasi pada penulisan buku Kuliner Palembang dan Gastronomi Yogyakarta.